As long as you can see.......

Loading...

Keteguhan Hati Sang Mama





Setiap orang pasti menganggap ibunya adalah seorang pahlawan, tapi buatku tampaknya tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa besarnya pengorbanan lahir dan batin mama kepadaku. Cerita berawal ketika aku memutuskan ingin melanjutkan kuliah S1 di Bandung tahun 2003 silam. Papaku tidak setuju dengan berbagai alasan, baik keuangan, kuatir akan pergaulan bebas, dan alasan khas orang tua pada umumnya. Tapi mamaku, dengan gagahnya mengijinkanku, beliau memberikan kepercayaan padaku, bahkan menyanggupi akan menangani semua masalah keuangan yang nantinya akan dihadapi. Ternyata perjalanan hidup seseorang memang tidak akan selalu mulus. Dari awal aku kuliah, berbagai rintangan yang menyangkut masalah keuangan mulai aku hadapi. Di tahun pertama aku sakit, yang mengharuskan orang tuaku merogoh kocek agak dalam untuk biaya pengobatanku. Sungguh, saat itu mamaku benar-benar layaknya seorang pejuang. Mamaku harus berusaha untuk membiaya pengobatanku dan di saat itupun mama harus menerima amarah papa yang selalu menyudutkan dan menyalahkan mama, bahwa semua ini terjadi karena ijin mama kepadaku. Sakitku berlanjut setiap tahun di bulan-bulan tertentu, aku dirawat di Rumah Sakit, mamaku sangat menderita karena mama sangat ingin menjengukku tapi tidak memungkinkan karena biaya yang besar dan menurut mama, uangnya akan lebih berguna untuk biaya pengobatanku sedangkan uang yang dimiliki hanya seadanya. Aku tahu, setiap kali menelponku suara mamaku bergetar karena menahan tangis. Namun, mama tak sekalipun memperdengarkannya kepadaku.

Puncaknya adalah di tahun 2007 ketika aku harus dirawat di Rumah Sakit hampir setiap 2 minggu sekali. Mama memutuskan untuk datang menjagaku. Walaupun mamaku seorang wanita yang bekerja (mamaku seorang PNS), tapi mamaku belum pernah meninggalkan kampung halamannya di Sulawesi Utara. Perjalanannya ke Bandung sendirian dengan perasaan campur aduk karena anak sulungnya yang sedang dirawat tak berdaya di RS, sungguh tak bisa kubayangkan. Setelah ketemu aku pun, mama tak menitikkan air matanya. Bukan, bukan karena mama tak sayang, tapi justru karena perasaannya yang terlalu dalam dan aku tahu itu. Hampir 3 bulan mama menjagaku di Bandung sebelum membawaku pulang. Saat itu aku ternyata menderita penyakit lambung kronis (GERD) dan juga mengalami depresi yang mengharuskanku dirawat psikiater selama 6 bulan. Selama menjagaku mama sangat cekatan dan tidak pernah sekalipun mengeluh. Mama sangat sabar dan wajahnya tetap ceria. Padahal aku tahu, setiap malam ketika aku tidur, mama menangis diam-diam. Ya, aku tahu karena aku pernah melihatnya dan belakangan dokterku menceritakannya kepadaku. Betapa dokterku pun merasa takjub dengan mamaku ketika mendengarkan penjelasan dokter tentang depresi yang ku alami, mama hanya berkata, “InsyaAllah dia akan normal lagi Dok, saya sangat kenal anak saya”. Tapi sekeluarnya dari ruangan dokter, mamaku menangis tanpa suara. Ya, mama hanya tidak ingin kesedihannya terlihat orang lain. Pun ketika ditelpon papaku, mama tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika bekal uang yang dibawanya hampir habis karena biaya pengobatanku yang mahal, mama tetap tenang. Hingga aku pernah menyarankan agar aku keluar RS saja karena aku tahu mama sudah tidak punya uang lagi. Tapi lagi-lagi dengan tenang mama hanya menjawab, “Sayang, nyawamu tidak bisa mama beli di toko manapun, tapi uang bisa mama cari”. Ya Allah, bagaimana aku bisa membalas mamaku? Dan benar, mamaku pun melakukan segalanya untuk kesembuhanku, mulai dari menjual segala harta miliknya. Masih kurang, mama pun rela mengabaikan harga dirinya dengan meminjam uang kepada keluarga, kerabat, bahkan kerabat jauh sekalipun. Mama benar-benar membunuh perasaan malunya demi aku.

Pernah sekali waktu aku melihatnya sedang membagi makan paginya menjadi 3 bagian. Aku tahu, biar irit mama hanya membeli makan sekali sehari untuk di makan pagi, siang, dan malam. Ketika aku bertanya, mama hanya menjawab kalau mama cepat merasa kenyang, makanya makanannya dibagi-bagi sehingga tidak mubazir. Aku melihatnya, perlahan-lahan berat badan mama merosot, wajahnya mulai kelihatan tirus. Sungguh, aku tak tahan melihatnya, tapi yang terpancar dari wajahnya hanyalah senyuman. Aku tak bisa membayangkan perasaannya, bagaimana ketika dia melihat aku pingsan di kamar mandi, mendapati diriku digotong orang-orang karena pingsan di jalan, melihat tubuhku tiba-tiba kejang dan sesak napas hingga diriku yang sempat tak sadarkan diri beberapa waktu lamanya. Mama telah menunjukkan keteguhan hatinya, kesabaran, dan keikhlasannya. Mama punya keyakinan, mama percaya dengan Kebesaran Allah SWT, bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Alhamdulillah, kami melewatinya, sesudah kesulitan ada kemudahan. Beberapa bulan setelahnya, mama kembali mengunjungi aku di Bandung. Kali ini dengan perasaan bahagia karena mama akan menghadiri wisuda S1-ku. Setelahnya, akupun mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri. Mama tak pernah meminta apapun, hanya selalu berdoa agar aku selalu sehat. Tak ada yang bisa kuungkapkan, hanya doa padamu Ya Allah, jagalah selalu mamaku dalam Rahmat dan Lindungan-Mu.




0 komentar: